LUKA

 Definisi
 
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. (Sjamsuhidayat, 2005)
Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu. (Lazarus et al dalam Potter, 2006)


Jenis-jenis luka umum

-   Luka abrasi (Luka lecet)
luka ini terjadi oleh karena gesekan pada permukaan kulit yang melawan permukaan benda kasar. Biasanya hanya mengenai kulit lapisan luar, membran mukosa atau kulit sedikit terkikis. Misalnya jatuh terseret
 
-   Luka laserasi (Luka Robek)
Pada luka laserasi terjadi kerusakan jaringan yang dapat disebabkan misalnya oleh pecahan gelas, kaca atau benda tajam. Luka ini akan mudah terkontaminasi dan timbul infeksi.

-   Luka kontusio (Luka Memar)
Luka yang terjadi dengan tidak menimbulkan kerusakan pada permukaan kulit akan tetapi adanya injury pada struktur internal. Luka ini biasa terjadi karena benturan benda tumpul.
 
-   Luka Tusuk
Luka tusuk adalah luka yang dalam akibat dari benda-benda tajam seperti pisau dapat juga pecahan gelas atau paku.


      
Fase Penyembuhan Luka
Fase inflamasi
Fase inflamasi dimulai dari saat terjadinya luka hingga hari ke lima. Saat terjadi luka maka tubuh akan berusaha untuk menghentikan perdarahan dengan cara memvasokonstriksikan pembuluh darah, pengerutan ujung pembuluh darah (retraksi), dan reaksi hemostasis. Dalam fase inflamasi ini trombosit yang keluar pembuluh darah akan saling menempel dan bersama-sama dengan benang-benang fibrin trombosit akan membekukan darah sehingga perdarahan dapat dikontrol
Disisi lain tubuh memiliki sel mast yang berfungsi untuk meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga sel-sel darah putih sebagai pemakan bakteri atau sel-sel yang mati dapat masuk dengan mudah. Sel mast mengeluarkan serotonin yang menyebabkan permeabilitas kapiler meningkat dan vasodilatasi di sekitar tempat inflamasi, hal inilah yang menyebakan cairan di pembuluh darah masuk di sekitar tempat inflamasi sehingga menyebabkan oedema (pembengkakan).
Tanda dan gejala pada fase inflamasi:
Kalor                    : Terasa hangat
Rubor                   : Berwarna kemerahan
Dolor                    : Nyeri
Tumor                  : Pembengkakan
Fungsiolesa        : Penurunan fungsi
Terjadinya luka menyebabkan terjadinya perpindahan sel-sel darah putih (Leukosit) ke tempat peradangan. Leukosit mengeluarkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri beserta sel-sel yang rusak. Setelah itu barulah muncul limfosit dan monosit yang memiliki kemampuan mencerna bakteri lebih baik untuk membantu pertempuran melawan bakteri.
Fase ini disebut juga dengan fase lamban karena luka masih belum stabil, pembentukan kolagen masih minimal dan luka hanya ditautkan dengan benang-benang fibrin yang amat lemah.

-       Fase proliferasi (Regenerasi)
Fase proliferasi terjadi antara 3 sampai 24 hari setelah luka terjadi. Tujuan utama dari fase ini adalah menumbuhkan jaringan baru dari dasar luka dengan jaringan penyambung atau biasa juga disebut sebagai granulasi dan menutup bagian atas luka dengan jaringan epitel (epitelisasi). Fibroblas adalah sel-sel yang mensintetis kolagen yang akan menutup luka. Fibroblas membutuhkan vitamin B, vitamin C, oksigen dan asam amino agar dapat berfungsi dengan baik.
Luka akan tertutup oleh jaringan-jaringan baru pada periode ini, elastisitas jaringan yang menutup luka mulai meningkat dan risiko ruptur (robek/terpisah) luka akan menurun.

-       Fase penyembuhan (Maturasi/Remodeling)
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri atas penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dan akhirnya membentuk jaringan baru yang merupai jaringan normal lainnya. Fase ini dapat berlangsung berbulan-bulan hingga 1 tahun dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Oedema dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap kembali, kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada.
Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat karena jaringan parut mengandung lebih sedikit sel-sel pigmentasi. Terlihat pengerutan maksimal pada luka. Pada akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira-kira 80% kemampuan kulit normal. Hal ini tercapai kira-kira 3-6 bulan setelah penyembuhan . perupaan luka tulang (patah tulang) memerlukan waktu satu tahun atau lebih untuk membentuk jaringan yang normal secara histologi atau secara bentuk.


Klasifikasi Penyembuhan Luka
 -      Penyembuhan Luka Primer
Jenis penyembuhan luka primer  terjadi bila luka segera diusahakan bertaut, biasanya dengan bantuan jahitan. Parut yang terjadi biasanya lebih halus dan kecil.

-       Penyembuhan Luka Sekunder
Penyembuhan luka sekunder merupakan penyembuhan luka kulit yang terjadi tanpa pertolongan dari luar. Penyembuhan ini berjalan alami atau mandiri dilakukan oleh tubuh. Luka akan terisi jaringan granulasi yang tumbuh dari dasar luka dan akhirnya akan ditutup oleh jaringan epitel. Penyembuhan seperti ini biasanya memerlukan waktu uang cukup lama dan akan meninggalkan jaringan parut yang kurang baik, terutama bila luka terbuka/mengaga lebar.

-       Penyembuhan Luka Tersier (Primer Tertunda)
Namun, jahitan luka tidak dapat langsung dilakukan pada luka terkontaminasi berat dan/ atau tidak berbatas tegas. Luka yang compang-camping seperti luka tembak, sering meniggalkan jaringan yang tidak dapat hidup yang pada pemeriksaan pertama sukar dikenal. Keadaan ini diperkirakan akan menyebabkan infeksi bila luka langsung dijahit. Luka yang demikian sebaiknya dibersihkan dan dieksisi (debrideman) dahulu dan kemudian dibiarkan selama 4-7 hari. Baru selanjutnya dijahit dan akan sembuh secara primer cara ini biasanya disebut dengan penyembuhan primer tertunda. Jika setelah dilakukan debrideman luka langsung dijahit, dapat diharapkan terjadi penyembuhan primer.

Penyembuhan jaringan khusus
Pembuluh darah
Proses penyembuhan luka pada pembuluh darah bergantung pada besarnya luka, derasnya arus darah yang keluar dan kemampuan tamponade jaringan sekitar.
Pada pembuluh yang luka, serat elastin pada dinding pembuluh darah akan mengkerut dan otot polosnya berkontraksi. Bila kerutan ini lebih kuat dari pada arus darah yang keluar, luka akan menutup dan perdarahan berhenti. Bila sempat terbentuk gumpalan darah yang menyumbat luka, permukaan dalam gumpalan perlahan-lahan akan dilapisi endotel dan mengalami organisasi menjadi jaringan ikat. Bila hematom sangat besar karena arus darah yang keluar kuat, bagian tengah akan tetap cair karena turbulensi arus, sedangkan dinding dalamnya perlahan-lahan akan dilapisi endotel sehingga terjadi aneurisma palsu.
Bila pembuluh darah sampai putus, ujung potongan akan mengalami retraksi dan kontraksi akibat adanya serat elastin


Faktor-faktor Penyembuhan Luka
a.Usia Pasien
Makin tua pasien makin menurun daya tahan tubuhnya dan semakin mudah terjadi infeksi dengan proses penyembuhan yang lama. Hal ini dapat dihubungkan dengan kemungkinan adanya degenerasi, tidak adekuatnya masukan makanan, dan menurunnya sirkulasi
b. Perlakuan terhadap jaringan luka
Perlakuan yang kasar terhadap luka akan memperlambat penyembuhan, lakukan tindakan secara hati-hati, cermat dan menyeluruh.

c.  Hypovolemia
Volume darah yang tidak mencukupi mengarah pada vasokontriksi dan tentu saja oksigenasi dan nutrien jaringan akan berkurang dan akan memperlama penyembuhan luka. Oleh karenya perlu memantau defisit cairan yang ada (sirkulasi)

d. Edema
Meningkatkan tekanan interstisiil pada pembuluh darah, sehingga pembuluh darah yang menyuplai oksigen dan nutrisi mengalami gangguan. Perlu meninggikan bagian yang edema.

e.  Balutan terlalu kencang
Penekanan balutan yang terlalu kencang dapat menyumbat aliran darah baik utama maupun prifer sehingga dapat mengurangi suplay oksigen yang membawa nutrisi jaringan.

f.   Defisit nutrisi
Nutrisi sangat berperan dalam penyembuhan luka. Klien harus mendapatkan protein yang cukup sebagai dasar untuk pembentukan kolagen. Selain itu karbohidrat juga diperlukan sebagai dukungan energi. Vitamin A,Bcomp, C, K, zat besi juga diperlukan untuk penyembuhan luka

g. Benda asing
Benda asing yang masuk ke dalam tubuh akan direspon oleh sistem imun tubuh sebagai benda yang berbahaya dan mengancam, sehingga terjadi proses peradangan berulang yang akan memperlambat penyembuhan. Jaga agar luka bebas dari benda asing misalnya serpihan kasa, kapas dan bedak sarung tangan.

h. Akumulasi Drainage  
Drainage yang menumpuk dapat menganggu proses penyembuhan luka. Drainage yang tidak dibersihkan merupakan mediator yang baik bagi kuman penyebab infeksi, selain itu juga drainage menghalangi tumbuhnya jaringan baru pada proses penyembuhan luka. Lakukan tindakan pembersihan terhadap drainage yang menumpuk.

i.   Steroid
Menyamarkan adanya inflamasi dengan mengganggu respons inflamasi normal.

j.   Antikoagulan
Antikoagulan dapat mengganggu upaya tubuh untuk melakukan penutupan pada luka, darah dalam hal ini trombosit akan mengalami kesulitan dalam melakukan penggumpalan untuk menutup luka. Selain itu antikoagulan juga dapat menyebabkan hemoragie

k. Overaktifitas pasien
Pasien yang mengalami luka diupayakan untuk mengistirahatkan bagian yang luka, hal ini ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada tubuh dan jaringan lukan untuk tumbuh dengan baik. Pergerakan yang berlebihan pada area luka dapat menyebabkan kerusankan pada jaringan luka yang masih muda dan rapuh, sehingga proses penyembuhan luka menjadi lama.

l.   Status Immuno Suppresi
Berikan perlindungan maksimal untuk pasien guna mencegah infeksi.Batasi pengunjung, lakukan prosedur cuci tangan pada saat sebelum dan setelah melakukan perawatan luka untuk menghindari infeksi nosokomial.

Pertolongan pertama pada luka
Diagnosis
Pertama-tama, lakukan pemeriksaan secara teliti untuk memastikan apakah ada perdarahan yang harus dihentikan. Kemudian, tentukan jenis trauma, tajam atau tumpul. Luasnya kematian jaringan, banyaknya kontaminasi dan berat ringannya luka.

Tindakan
Perawatan luka akan tergantung pada jenis luka, berat ringannya luka, ada tidaknya perdarahan dan risiko yang dapat menimbulkan infeksi. Prinsip umum pertolongan pertama pada luka sebagai berikut
  • Mencuci tangan dengan menggunakan sabun atau larutan antiseptik
  • Segera pantau luka kemungkinan adanya benda asing dalam luka
  • Bersihkan pinggiran luka dengan antiseptik atau sabun antiseptik. Bila luka dalam, bersihkan dengan normal saline (cairan infus/NS, jika tidak ada gunakan air matang beri sedikit garam) dari pusat luka ke arah luar, setelah luka dibersihkan kemudian lakukan irigasi luka dengan normal salin (cairan infus NS/Normal Saline digunakan karena cairan ini mirip sekali dengan cairan tubuh sehingga diharapkan dapat mengurangi rasa nyeri karena cairan ini tidak dianggap benda asing oleh tubuh, selain itu cairan ini terdapat pada wadah tertutup yang steril sehingga meminimalkan infeksi).
  • Keringkan luka dengan kasa steril yang lembut
  • Berikan antibiotk atau obat antiseptik yang sesuai
  • Tutup luka dengan kasa steril dan paten
  • Tinggikan posisi luka bia terjadi perdarahan dan imobilisasi
Kontrol perdarahan
-       Pantau keadaan luka (angkat atau gunting pakaian pada area injury) bila diperlukan
-       Ambil benda asing secara perlahan bila terdapat benda asing dalam luka
-       Lakukan penekanan area perdarahan dengan kasa steril
-       Lakukan penutupan area luka dengan kasa steril
-       Lakukan pembalutan

 Luka khusus
 Luka Bakar
Luka bakar merupkan respons kulit dan jaringan subkutan terhadap trauma suhu/termal.
Derajat luka bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu tinggi. Selain api langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu domba (wol). Bahan sintetis seperti nilon dan dakron, selain mudah terbakar juga mudah lumer oleh suhu tinggi lalu menjadi lengkat sehingga memperberat kedalaman luka bakar

Penatalaksanaan
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api yang menyala. Korban dapat mengusahakan dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling agar bagian pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan yang panas juga harus cepat diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air dingin (bukan air es). atau melepaskan baju yang tersiram air panas.
Pertolongan pertama setelah sumber panas hilang adalah merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiramnya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya lima belas menit. Proses koagulasi protein sel di jaringan terpajan suhu tinggi berlangsung terus meskipun api telah dipadamkan sehingga destruksi (kerusakan) tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan  mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu, merendam bagian yang terbakar selama lima belas menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan jaringan lebih dangkal dan diperkecil. Dengan demikian luka yang sebenarnya menuju derajat dua dapat berhenti pada derajat satu. Atau luka yang akan menjadi tingkat tiga dihentikan pada tingkat dua atau satu.  Pencelupan atau penyiraman dapat dilakukan dengan air apa saja yang dingin, tidak perlu steril.
Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka
Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan, kalau perlu dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila penderita menunjukkan gejala terbakarnya jalan napas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Kalau terjadi oedema laring, dipasang pipa endotrakeal atau dibuat trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk membebaskan jalan napas, mengurangi ruang mati dan memudahkan pemersihan jalan napas dari lendir atau kotoran. Bila dugaan keracunan CO diberikan oksigen murni.


Luka gigitan
Luka gigitan dapat disebabkan oleh hewan liar, hewan piaraan atau manusia. Hewan liar biasanya menggigit adalah hewan yang memang ganas dan pemakan daging, misalnya harimau, singa, hiu, atau bila hewan itu terganggu atau terkejut, yaitu dalam usaha membela diri. Hewan piaraan jinak menggigit bila disakiti,  di ganggu atau bila dalam keadaan tertentu  misalnya sedang memelihara anaknya yang masih kecil, sedang makan dan bila sedang sakit. Bila hewan menggigit tanpa alasan jelas, harus dicuriagi kemungkinan hewan tersebut menderita penyakit yang mungkin menular melalui gigitan misalnya rabies.
Luka gigitan dapat hanya berupa luka tusuk kecil atau luka compang-camping luas yang berat. Luka gigitan manusia berbahaya karena dalam mulut manusia ditemukan lebih banyak jenis kuman patogen dibanding mungkin karena dietnya yang lebih bervariasi
Persoalan yang ditimbulkan oleh luka gigitan atau sengatan serangga adalah lukanya sendiri, kontaminasi bakteri atau virus dan reaksi alergi. Dalam penanggulangannya, perlu lebih dahulu diidentifikasi hewan yang menggigit atau menyengat untuk perencanaan langkah pertolongan.
            Tindakan terhadap luka adalah pembersihan luka, disusul dengan menjahit rapat atau membuat jahitan situasi, yaitu jahitan untuk sementara sesuai keadaan dengan maksud mencegah luka mengaga terlalu lebar. Umumnya dianggap lebih aman kalau sementara hanya dibuat jahitan situasi. Setelah diamati beberapa hari dan luka tampak tenang, baru dijahit rapat.
Tindakan terhadap kuman atau alergen yang masuk terdiri atas mencuci dan eksisi luas luka. Diusahakan untuk menghalangi dan mengurangi penyebaran dengan memasang turniket, istirahat total dan mendinginkan daerah yang bersangkutan. Untuk menetralkan racun diberikan serum antiracun dan jika diduga kontaminasi kuman penyakit diberikan vaksin.

Gigitan ular
Gigitan ular berbahaya bila ularnya tergolong jenis berbissa. Sebenarnya dari kira-kira ratusan jenis ular yang diketahui, hanya sedikit sekali yang berbisa dan dari golongan ini hanya beberapa yang berbahaya.
Bisa ular bersifat toksik dan dapat menyebabkn destruksi jaringan lokal, bersifat toksik terhadap saraf, menyebabkan hemolisis atau pelepasan histamin sehingga timbul reaksi anafilaksis. Racun yang merusak jaringan menyebabkan nekrosis jaringan yang luas dan hemolisis.
Gejala dan tanda yang menonjol berupa nyeri hebat yang tidak sebanding dengan besar luka, oedema, eritema, petekia, ekimosis, bula dan tanda nekrosis jaringan. Dapat terjadi perdarahan di peritoneum atau perikardium, oedema paru, syok berat karena efek racun langsung pada otot jantung
Ular berbisa yang tekenal adalah ular tanah, bandotan puspa, ular hijau dan ular laut. Ular berbisa lain adalah ular kobra dan ular welang yang bisanya bersifat neurotoksik. Gejala dan tanda yang ditimbulkan dari bisa jenis ini adalah rasa kesemutan, lemas, mual, salivasi dan muntah. Ular kobra dapat juga menyemprotkan bisanya yang apabila mengenai mata dapat menyebabkan kebutaan sementara.

Tata laksana
Tanda umum ular berbisa adalah kepalanya berbentuk segitiga. Tanda lain adalah dari pernampakannya langsung misalnya corak kulitnya. Dari bekas gigitan dapat dilihat dua lubang yang jelas akibat dua gigi taaring atas bila ularnya berbisa dan deretan bekas gigi kecil-kecil berbentuk U bila ularnya tidak berbisa.
Tindakan yang dapat dikerjakan untuk menolong penderita yang digigit ular berbisa adalah mengikuti prinsip umum seperti yang diterangkan di atas.
Usahakan membuang bisa sebanyak-banyaknya dengan menoreh lubang bekas masuknya taring ular sepanjang dan sedalam 0,5 cm, kemudian lakukan penghisapan mekanik. Penghisapan dengan mulut tidak dianjurkan karena risiko tertular apabila terdapat mukosa yang terluka.
Usaha menghambat absorbsi dapat dilakukan dengan cara memasang turniket bebeapa sentimeter proksimal gigitan atau daerah bengkak, dengan tekanan yang cukup untuk menghambat aliran vena, tetapi lebih rendah daripada tekanan arteri. Tekanan ini dapat dipertahankan hingga 30 menit. Dalam 12 jam pertama masih ada pengaruh bila bagian yang tergigit direndam dalam air es atau didinginkan dengan es.

Sengatan lebah
Sebenarnya racun dalam sungut lebah sama toksiknya dengan racun ular berbisa, tetapi karena jumlahnya yang masuk ke tubuh sangat sedikit, dampaknya ringan. Raksi yang lebih sering terhadap sengatan lebah adalah reaksi alergi. Walaupun demikian, sengatan segrombolan lebah yang mengamuk berakibat lebih berat. Gejala dan tandanya dapat berupa gatal, oedema, eritema dan oedema angioneurotik. Dalam keadaan lebih berat ditemukan gangguan menelan, kelemahan otot mata, bradikardia dan syok

Tata laksana
Sungut lebah yang masih menempel dicari dan dicabut. Daerah sengatan dibersihkan dengan air dan sabun. Untuk mengurangi nyeri dapat disuntikkan lidokain, kadang diperlukan sedatif, infus dan antibiotik. Bila terlihat tanda alergi, diberikan adrenalin dan antihistamin.





Baca Juga



2 comments:

  1. sya mau btanya,mksd dri penghisapan mekanik pda tata lksana gigitan ular spt apa ya? tq

    ReplyDelete

Pembaca Baik Selalu Meninggalkan Komentar