Monosit dan Makrofag

          Monosit termasuk dalam sel darah putih yang terbesar pada darah normal dengan nukleus (inti) yang bentuknya bulat, oval atau mempunyai lekukan kecil.
          Monosit beredar dalam darah dan masuk ke jaringan yang cedera melewati membran kapiler yang menjadi permeabel sebagai akibat dari reaksi perdangan. Monosit tidak bersifat fagositik, tetapi setelah beberapa jam berada di jaringan, sel ini berkembang matang menjadi makrofag.

          Makrofag adalah sel besar yang mampu mencerna bakteri dan sisa sel dalam jumlah yang sangat besar. Makrofag dapat memfagositosis sel darah merah dan sel darah putih lain yang telah lisis(rusak/pecah). Sebagian sel makrofag mengkoloni jaringan misalnya kulit, kelenjar limfe dan paru selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sel-sel ini berfungsi menyapu berbagai mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh melalui rute-rute tersebut.
          Sistem sel monosit-makrofag disebut sistem retikuloendotel. Sekitar 3% sampai 7% monosit dalam sel darah putih bersirkulasi ditemukan pada orang dewasa.




Baca Juga



4 comments:

  1. Apa penyebab nilai monosit diatas normal? Apa dampaknya? Tx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... Pertanyaanya dalam sekali, saya tidak sempat berpikir sejauh itu..
      sampai-sampai saya perlu membuka lebih dari satu buku untuk mencari rasional meningkatnya nilai monosit secara fisiologis..

      Baiklah, saya akan coba sebaik dan sesimpel mungkin
      1. Monosit adalah sel darah putih yang imatur (belum matang) bentuk akhirnya/matangnya adalah Makrofag. Jadi monosit harus jadi makrofag dulu agar mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
      2. Makrofag sebagian besar berada dijaringan untuk mempertahankan jaringan dari serangan bakteri, toksik (racun), dan benda asing lainnya.
      3. Jika jaringan terjadi kerusakan karena invasi (serangan) dari bakteri atau toksik, maka jaringan akan mengaktifkan respon radang.
      4. Respon radang menyababkan makrofag di jaringan lain yang tidak mengalami masalah akan bergerak membantu mengatasi masalah pada daerah radang bersama-sama dengan neutrofil yang memiliki jumlah lebih banyak dibanding hanya makrofag.
      5. Jika infeksi tidak dapat segera diatasi di jaringan lokal (radang) maka jaringan radang akan merangsang sumsum tulang untuk memproduksi lebih banyak lagi sel Monosit, namun memerlukan waktu 3-4 hari (fase produksi) agar sel monosit mampu untuk keluar dari sumsum tulang menuju peredaran darah.
      6. Jika terus menerus terdapat rangsangan dari jaringan radang , maka sumsum tulang akan terus menerus memproduksi sel-sel ini dalam jumlah yang sangat banyak sekali selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kadang dengan kecepatan produksi 20 sampai 50 kali lipat di atas normal.

      Kesimpulan : Monosit dapat meningkat pada seseorang yang terserang infeksi kronis

      Semoga jawaban ini dapat membantu
      Terima kasih telah berkunjung ke blog kami..
      Sukses selalu..
      Amin..

      Delete
  2. makasih informasinya... isi dari blog ini sangat membantu saya dalam menyelesikan tugas kuliah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah....
      La hawla wala quwwata illa billah....


      terima kasih telah berkunjung di blog kami...
      semoga sukses selalu..
      amin...

      Delete

Pembaca Baik Selalu Meninggalkan Komentar